Jangan Tanyakan ini

Jangan Tanyakan ini




Belakangan ini aku kerap mendapat kabar gembira yang berakhir dengan sebuah pertanyaan sederhana “Kau kapan Yus?”

Ah! Aku gak tau harus menjawab apa. Paling tidak ku jawab dengan senyum manis “InsyaAllah tahun depan”

Di usiaku yang sekarang ini wajar saja kalo banyak yang bertanya “Kau kapan nikah yus?”

Dan aku juga gak  bisa menghindari pertanyaan seperti itu

Tapi kalo boleh jujur aku merasa agak sakit ketika mendapat pertanyaan seperti itu. Apa kah cuma aku? Atau memang ada orang lian yang perasaannya jadi gak enak ketika mendapat pertanyaan seperti itu.

Entahlah!

Yang ku rasakan sekarang aku lagi gak pengen mendengar pertanyaan seperti ini

“Kapan nikah?”

Jangankan menjawab, mendengarnya pun aku gak mau.

Kalo kata orang sebelum bertanya seperti itu coba pikirkan kalian tidak tau apa yang mereka alami jadi jangan tanyakan pertanyaan seperti itu.

Akan tetapi, yaaa sudahlah...

Biar bagaimana pun aku harus siap dengan mendengar dan menjawab pertanyaan seperti itu. meskipun sebenernya aku gak pengen mendapat pertanyaan seperti itu.

Iya aku juga gak tau apa yang kamu alami, mangkanya  aku gak mau nanyak kapan kamu nikah.
Aku cuma mau nanya “Kapan kita nikah?”

-------------------------------oOo-----------------------------

Inilah aku sekarang

Inilah aku sekarang





Aku ingin menjadi lebih baik lagi.

Setelah semua yang terjadi padaku, aku sadar aku memang banyak salahnya. Dan salah satu kesalahan terbesarku adalah “Aku jomlo”

Iya, aku udah 26 tahun dan aku masih jomlo, padahal tiga tahun yang lalu aku punya pacar dan setahun yang lalu aku punya gebetan.

Tapi sekarang semua udah berubah “Aku jomlo”

“Iya aku jomlo”

Dan sekarang mimpi ku menjadi lebih sederhana “Aku pengen nikah dan Menghajikan orang tua lalu Lanjut S2”

***

Kemarin aku dapet undangan nikahan lagi. Sejak dua tahun belakangan ini aku memang sering dapet undangan nikahan, hampir setiap bulan aku mendapat undangan nikahan.

Bahkan sebulan ini aku udah dua kali dapet undangan nikahan,. Kemarin undangan nikahan temen SMA, sekarang undangan nikahan temen kuliah.

“Mungkin memang sudah waktunya”

Pada akhirnya aku kesel dengan diriku sendiri, kapan aku ngundang temenku? Masak aku diundang terus?

Ah! Sudahlah hidup memang tidak semudah itu. Dan mungkin belum saatnya bagiku.

Aku memang belum bisa ngundang. Tapi paling tidak aku bisa menjadi tamu undangan yang baik.

***
Dua minggu lagi Miko akan segera menikah, padahal waktu kuliah aku sempet merasa Miko tidak lebih baik dariku.

Untuk urusan kuliah aku merasa aku lebih baik darinya. Aku sering ngajarin dia dan aku sering di contekin dia.

Tapi ternyata itu tidak menjadi ukuran keberhasilan seseorang. Terutama keberhasilan dalam melangkah ke jenjang hidup selanjutnya “Menikah”

Justru aku yang sering di bilang “Jenius” ini malah terdampar dalam kehidupan pelik yang kelihatan ambigu.

Di satu sisi aku bisa di bilang berhasil dan di sisi lain aku juga bisa di bilang gagal. aku di bilang berhasil karena aku udah punya pekerjaan, dan aku di bilang gagal karena sampe sekarang aku belum menikah. Gak ada yang salah dari dua pandangan itu. Semua itu tergantung dari sudut mana orang memandangku.

Aku salah apa coba?

Satu persatu temenku sekolahku meninggalkanku, mereka memasuki jenjang kehidupan berikutnya, lalu sibuk dengan kesibukan barunya masing masing. Teman kuliahku juga sama, mereka juga sibuk dengan kehidupan barunya masing-masing.

Kini hanya tersisa beberapa temen mengajar yang memiliki kesibukannya sendiri.

Sekarang semuanya sibuk dengan kehidupan masing-masing. Dan aku tidak bisa menyalahkan siapa pun. Mungkin karena sudah waktunya dan mungkin karena sudah saatnya.

Aku masih ingat betul, terakhir kali aku nongkrong bareng temen kuliahku itu ramadhan dua tahun lalu. Sekarang semua udah berubah, udah gak sama sepertu dulu lagi. Satu persatu temanku berkeluarga dan akan sangat sulit ngajak mereka ngumpul bareng. dan aku harus memakluminya.

Ilham, temen kuliah yang begitu akrab denganku sekarang sudah punya anak satu, Rian yang sering ku kacangin udah punya istri, Dhani yang polos juga udah nikah,  Miko yang dulu sering ku buli sebentar lagi menikah, Lita yang pemalu udah nikah, Rika yang tomboy juga udah punya anak dan terakhir Romlah temen kuliah yang sering ku godain sekarang sudah hamil.

Sebagian besar, Temen-temen nongkrongku udah berkeluarga, tinggal Auji yang belum menikah itu pun sekarang tinggal di kampung halamannya, Banda Aceh.

Sementara itu Laila, mantanku juga udah punya anak.

Dan masih banyak lagi temanku yang gak bisa ku sebutin satu-satu.

“Ah! Sudahlah”

Kini tinggal tersisa teman ngajarku “Faisal dan Dheni” keduanya adalah guru freshgraduate di sekolah tempat aku mengajar, mereka adalah guru Sejarah dan PJOK, sedangkan aku adalah guru matematika. Mereka masih muda, sama sepertiku dan di sukai banyak siswa. Dan sama-sama sering di tanya siswa “Bapak kapan nikah?”

Sekitar dua tahun yang lalu kontrakanku rame dengan teman kuliahku, rame dengan teman nongkrongku rame dengan temen ngajarku, rame dengan guru-guru muda. Sekarang kontrakanku udah sepi.

Alasannya sederhana mereka udah nikah.

Sebagian besar mereka sudah berkeluarga dan sebagian lagi memiliki kesibukan yang tak bisa di tawar-tawar.

Lalu mengapa aku tidak dateng kerumah mereka saja?

Percuma saja, mereka sibuk dan aku juga sibuk. Hanya pada waktu-waktu tertentu saja kita bisa bertemu. Misalnya buka bersama saat Ramadhan, itu pun kalo "iya".

Sekarang kontrakanku sepi. Sepi pengunjung maksudnya. Hanya sekali-sekali temanku datang, itu pun kalo ada perlunya. Dan aku maklum, karena kadang-kadang aku juga begitu.

Faisal dan Dhani juga udah jarang dateng kerumah. Setauku faisal sibuk ngajar di swasta dan Dhani kini ikut kakaknya dagang.

Paling-paling yang dateng kerumahku adalah siswa dan orang tua siswa.

Siswa yang dateng kerumah biasanya kalo tidak nanyak tugas pasti nanyak yang aneh-aneh misalnya “Pak besok libur?” “Pak besok bagi raport orang tua dateng ya?” atau “Pak Besok di suru bawak apa sih pak? Saya lupa” pertanyaan sepele yang kadang membuatku geleng kepala. Dan yang paling parah “Pak! Tadi tugas yang bapak suruh yang mana ya?”

"Hmmmm" aku menarik nafas dalam-dalam

Kecuali orang tua siswa yang datang untuk memastikan kebenaran ucapan anaknya “Pak bener ya besok masuk siang?”

“Iya bu, besok kan kelas xii ujian masuk pagi, kelas xi dan kelas x masuk jam sepuluh pagi”

“Kan betol kan kan mamak, mamak sih gak percaya” si anak merasa menang

“Oooh, gitu ya pak, makasih ya pak”

Kadang-kadang ada juga orang orang tua siswa yang curhat “Pak, gimana ya pak nasehatin anak saya itu. Udah bolak balek saya bilangan masih aja gak berubah-berbuah. Sudah semua cara say alakukan pak”

Kalo udah gini aku bakalan menjadi sangat bijak.

Dan masih banyak lagi kejadian unik seputar kunjungan orang tua siswa kerumahku.

Kebetulan aku ngontrak rumah di dekat sekolah, dan sebagian besar siswa siswi ku adalah adalah masyarakat sekitar yang tinggal tidak jauh dari sekolah. Mangkanya aku sering ketemu dan sering di kunjungi orang tua dan siswa siswi ku.

Sebenernya aku bukan satu-satunya guru yang tinggal di dekat sekolah tapi mengapa cuma aku yang sering di kunjungi?. 

Mungkin jawabannya karena "Aku tinggal sendirian"


***

Siang itu Helmi dateng ke kosanku, katanya malam ini dia mau nginep di rumaku. 

Aku seneng sih, karena udah lama aku tidur sendirian. Jadi malam ini aku bakalan punya temen tidur. Udah hampir setahun sejak teman ngontrakku pindah gara-gara sudah wisuda.

“Abang sendirian aja?”

“Iya?” aku mempersilakan Helmi masuk

“Rapi ya? Jarang-jarang aku lihat jomlo yang rapi?”

“Maksudmu?” dahiku mulai berkerut

“Biasanya jomblo yang tinggal sendirian itu berantakan loh?“ ujarnya tanpa rasa bersalah “Abang kapan nikah?”

“Tahun depan, doain aja” Jawabku cepat

“Bang Miko minggu depan nikah. Masak abang mau tahun depan? Inget bang, kak Layla udah punya anak, kak Romlah tahun depan juga udah punya anak. Abang mau kapan lagi punya anak?”

Aku diam, dan menunjukkan ekspresi tidak enak “Sukakmu lah”

Helmi duduk manis di ruang tamu sambil menceritakan unek-uneknya. Ceritanya dia lagi berantem dengan teman satu kosnya. Katanya mereka berantem gara-gara cewek. “Rebutan cewek nih ceritanya”

Sudah menjadi rahasia umum, sejak aku kuliah, aku selalu di datengi temen-temenku yang punya masalah hati. Bisa dibilang aku adalah pakarnya kalo urusan yang kayak ginian.

Katanya aku jago jadi problem solver. Katanya lagi solusiku untuk masalah hati gak di ragukan lagi. Ini terbukti dari banyakknya jomlo yang berhasil menikah setelah ku comblangi.

Iyaaa, meskipun aku gak merasa begitu.

“Jadi gimana bang?” tanya Helmi setelah bercerita panjang lebar

“Gimana ya? Abang udah lama sendirian jadi ya gitu, ilmunya udah luntur?” jawabku sambil ngelus-ngelus jenggotku yang tak seberapa

“Ah! Abang payah! Ayo lah bang, nanti ku traktir ayam penyet loh?”

“Jangan! jangan ayam penyet!”

“Jadi apa?”

“Bebek fresto cabe ijo aja? Di depan simpang itu”

“Ah! Abang sih, kelamaan jomlo jadi payah? Yauda deh! Tapi harus jelas ya!”

***

Helmi itu adiknya Romlah, mahasiswa ekonomi semester Sembilan. Harusnya dia udah wisuda tapi gara-gara pacarnya di tikung dia gak jadi wisuda. Katanya urusan hati itu penting dan harus diselesaikan terlebih dahulu.

Di bandingkan Romlah, Helmi lebih percaya padaku. Sejak Helmi SMA aku sering main ke rumahnya, waktu itu aku masih Kuliah, niatnya sih modusin si Romlah, eh malah berakhir dengan main PS bareng Helmi.

Akhirnya aku pacaran dengan temennya Romlah, terus putus. Begitu putus aku sempet pedekatein si Romlah. Eh! Ternyata gak jodoh juga. Sedihnya, Romlah berjodoh dengan sepupuku sendiri.

Ah! Sudahlah! Jodoh memang misteri.

Aku gak berjodoh dengan Romlah padahal aku dan Helmi udah kayak sodara sendiri, maklum aku gak punya adik laki-laki sedangkan Helmi anak paling kecil dan anak laki-laki satu-satunya.

***

Malam itu helmi menceritakan semuanya, mulai dari pertemuan pertamanya dengan Tini, pacarnya sampai akhirnya di tikung Parto, teman satu kosnya.

“Jadi sekarang maunya gimana?” Tanyaku serius

“Entahlah! Aku juga bingung”

“Sudahlah, sudahi saja semua itu percuma”

“hah! Maksudnya” Helmi sok kaget

“Kau wisuda aja dulu, nanti kalo udah wisuda semuanya pasti berubah. Kau pasti akan kerja dan bertemu orang-orang baru. Denger ya, kadang-kadang kita harus mengabaikan yang kayak ginian. Supaya apa? Supaya urusan yang lebih penting bisa kita selesaikan. Contohnya kuliahmu. Percuma kan kau kuliah kalo pada akhirnya gak jadi wisuda gara-gara cewek. Untung aja kau gak nangis di depanku”

“Abang aja gak tau, aku sempet nangis loh”

“Astaga” aku menggeleng kepala

Lalu lanjutku “Tobat euy, ngaji sana ngaji. Kau menangisi dia yang gak jelas. Harusnya kau malu dengan dirimu sendiri”

“Ah! Abang parah! Abang kenapa sih? Sensi banget, bisa gak jangan ceramah gitu. Kasi aku motivasi untuk Move On gitu”

“Ya itu lah motivasinya, Dasar anak-anak”

“Parah abang! Abang kayak gak nangis aja waktu di tinggal kak Romlah!”

“Heh! Denger ya? Biar bagaimana pun kau masih saja anak-anak. Gak usah memaksakan dirilah. Apa lgi memaksakan hatimu dengan dia. Berat memang tapi suatu saat kau pasti bisa. Berdiri dan melangkah sendiri. Percayalah bro, hidup ini bukan hanya tentang aku, kau dan dia, ada bagian-bagian lain yang harus kau selesaikan. Ada bagian-bagian yang harus kau jalani. Jatuh cinta dan patah hati adalah bagian yang harus kau lewati”

Aku nyeruput teh yang udah gak hangat lagi “Ada yang bilang jatuh cinta dan patah hati itu satu paket. Kalo kau jatuh hati kau harus siap patah hati. Kalo kau ingin bahagia kau juga harus siap menderita. Lagi pula dengan kembalinya tini ke pelukanmu apa kan membuat semua menjadi lebih baik?”

Helmi menggeleng

“Belum tentukan?” kataku “Hidup gak cuma soal hati, gak cuma soal cinta dan gak cuma soal perasaan. Ada bagian tertentu yang harus mengutamakan akal sehat” aku menunjuk kepalaku

Lalu kulanjutkan “Mulai sekarang berubahlah! Dunia ini kejam. Jangan mikirin dia lagi jagan berharap dia kembali. Perbaiki dirimu berubah jadi lebih baik lagi, selesaikan kuliahmu kemudian bekerjalah. Itu baru namanya manusia. Tapi, ada tapi nya loh ya. Kalo ternyata kalian berjodoh ya itu lah jodohmu. Artinya apa pun yang terjadi jodoh pasti ketemu. Meskipun sampe sekarang aku belum punya jodoh ”

Helmi menarik napas dalam-dalam “Iya sih. Tapi? ah! Udahlah. Aku pun gak tau harus ngomong apa lagi”

Aku menepuk pundaknya “Yang pasti aku cuma mau bilang sama mu. Jangan habiskan masa mudamu karena dia. Percayalah setiap tahun kau pasti akan bertemu orang-orang baru yang akan melengkapi ceritamu. Ada yang singgah sebentar, ada yang lama, ada yang singgah agak lama dan akan ada juga yang akan singgah selamanya. Masalahnya sampai sekarang aku belum nemu yang bisa singgah selamanya. Mungkin nanti, mungkin suatu saat nanti”

Ruangan itu mendadak hening. Helmi bernjak dari duduknya, menyeduh kopi lagi lalu menyalakan laptopnya. Katanya “Besok aku harus jumpa pembimbing skripsiku. Terus ku bilang sama disenku disini aku ketemu orang yang gagal jadi abang iparku tapi gak pernah gagal jadi abangku. Thanks Brother”

***

Seminggu berlalu, aku dapat pesan WhatsApp dari Helmi “Thans Brother, bulan lima ini aku wisuda. Datang ya bang”

“Enggak” jawabku singgkat”

“Kenapa?”

“Aku gak mau ketemu kakakmu”

“Yaaaaaaaaa… Eh! BTW ada pasien lagi nih Bg. Besok kami mau jumpa abang. Boleh ya?”

“Enggak”

“Kenapa?”

“lebih baik dia tobat aja. Hidup ini kejam”

Hanya di baca dan tidak di balas. Sepertinya Helmi mengerti apa maksudku.

Aku gak mau lagi jadi makcomblang atau apalah itu namanya. Kalo pun ada yang curhat padaku tentang masalah dengan pujaan hatinya aku gak akan memberikan nasehat yang muluk-muluk lagi, aku cukup bilang bertaubatlah! Hidup ini kejam.

Ini lah hidupku sekarang, pasca pernikahan gebetanku semuanya terasa sepi. Sepi, begitu katanya, meskipun sesekali Helmi dateng kerumah dan sesekali Ilham dateng kerumah dan sesekali aku datang kerumah ilham. Tetapi tetap aja masih ada yang kurang dalam hidupku.

Mungkin aku masih kurang bersyukur, mungkin juga aku masih kurang bersabar, mungkin juga keduanya.

Tapi ini lah hidup, setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Meskipun aku kehilangan teman-temanku cepat atau lambat aku pasti akan ketemu orang-orang baru yang akan menggantikan teman-temanku.

-------------------------------oOo-----------------------------

Hi . . .

Hi . . .




Sudah tahun baru aja

Gak terasa ya udah 2019. Semoga Tahun ini semuanya menjadi lebih baik, dan yang paling penting semoga yang disemogakan di segerakan…

Tahun ini aku ingin memperbaiki semuanya dan mambuat semuanya menjadi lebih baik.

Aku tau ini gak mudah, tapi selama aku mau berusaha pasti ada jalannya. Meskipun aku tau ini sulit.

“Hmmm, tidak semudah itu Ferguso”

Hmmm

Terkadang kesulitan memang harus di hadapi bukan untuk di hindari apa lagi di jauhi. Maka dari tu apa pun kesulitan yang hadir harus ku hadapi dan ku selesaikan dengan baik.

Mulai sekarang aku harus belajar banyak hal, mulai dari yang paling sederhana sampai hal yang paling rumit.

Dan hal paling sederhana yang harus ku pelajari adalah “diriku sendiri”.

Iya, aku harus belajar memahami diriku sendiri. Belajar mengerti tentang aku, siapa aku dan apa pun yang berkaitan dengan diriu sendiri termasuk “makanan apa yang gak cocok untuk kesehatanku”

iya. Aku harus belajar tentang aku dan semuanya tentang diriku.

Dan di tahun 2019 ini semoga semua harapan baik yang di perjuangkan berbuah manis.

☺☺☺☺☺

-------------------------------oOo-----------------------------

Di Tahun ini

Di Tahun ini



Sekarang kita tiba di penghujung 2018.

Di tahun ini banyak pelajaran yang ku dapatkan. Salah satunya pelajaran tentang pentingnya menjaga kesehatan.

Berhubung karena aku punya penyakit asam lambung yang bisa kumat jika aku tidak cermat maka ini menjadi pelajaran berharga bagiku.

Iya aku harus bener-bener menjaga kesehatanku agar penyakit yang satu ini tidak kambuh lagi.

Menjaga kesehatan itu penting dan memang sangat penting. Karena kesehatan sangat berpengaruh terhadap aktivitas dan produktifitas seseorang,

Karena itu aku harus bener-bener menjaga kesehatanku agar aku tidak kehilangan produktifitas diri.

Pelajaran berharga lainnya yang kudapatkan adalah “Bersabar”

Ternyata sabar itu memiliki makna yang luas dan sangat luas, sabar tak bisa diukur dengan angka dan sebuah peristiwa.

Karena itu aku harus bersabar. Bersabar dalam menjalani hidup dan bersabar dalam menjalani ujian hidup.

Sabar kata sederhana yang sering terlupakan.

Gak lengkap rasanya ngomongin sabar tanpa syukur. Seperti sayur tanpa garam katanya.

Apa pun yang terjadi aku harus bener-bener bersyukur. Bersyukur atas semua nikmat yang ku dapatkan serta bersyukur atas hidup yang ku jalani.

Menariknya bersyukur tidak serta merta mengucapkan “Alhamdulillah” atau “Terimakasih”.

Syukur itu luas dan yang paling penting bukti dari rasa syukur adalah menjadi pribadi yang bertakwa. Artinya syukur harus di tunjukkan dengan perbuatan.

Iya, aku harus bersyukur dan bersabar dalam satu waktu.

Di tahun ini untuk pertama kalinya aku mengikuti ujian CPNS. Meskipun hasilnya tidak lulus. Akan tetapi yaaa, sudahlah!

Aku harus belajar dari kegagalan yang satu ini.

Di tahun ini juga aku mendapat banyak undangan yang akhirnya menimbulkan pertanyaan serius “Kapan nikah?” pertanyaan yang sebenernya aku sendiri tidak ingin mendengarnya.

Lalu jawabku “Insyaallah tahun depan” semoga saja.

Tentu saja ini menjadi pelajaran baru bagiku. Pelajaran istimewa untuk memantaskan diri.

Dan pelajaran selanjutnya.

Aku harus berani. Aku harus berani melangkah lebih jauh dan melompat lebih tinggi.

-------------------------------oOo-----------------------------

Memperbaiki semuanya

Memperbaiki semuanya




“Aku harus memperbaiki semuanya”

Iya, ini adalah kalimat sederhana yang paling sering ku ulang. Aku memang pengen memperbaiki semuanya tapi nyatanya aku gak selalu seperti itu.

Aku tidak berhasil.

Eh! Bukan!

Aku belum berhasil.

Untuk beberapa hal aku masih sering melakukan kebiasaan burukku. Misalnya “menunda”.

Entah kapan aku bisa benar-benar berhenti menunda yang pasti sampai sejauh ini aku masih sering menunda meskipun gak sesering dulu juga sih.

Masa-masa muda seperti ini tidak akan datang dua kali, aku bakalan nyesel kalo kalo aku gak memanfaatannya dengan baik.

Dan aku akan menjadi orang yang paling menyesal setelah menyadari bahwa aku sudah kehabisan waktu.

Iya! Waktuku tidak banyak lagi. Semakin hari kesempatanku semakin berkurang dan semakin hari semakin sempit saja waktu yang ku miliki. Rasanya agak sedih saat aku menyadari bahwa aku gak punya banyak waktu lagi.

Aku harus bergegas melakukan banyak hal dan menuntaskan satu persatu pekerjaanku.

Semakin hari semakin banyak saja yang sepertinya harus ku tuntaskan dan semua itu bukan hanya tentang pekerjaanku saja, tetapi lebih tetang diriku.

Pekerjaan rumahku tidak pernah habis, satu persatu pekerjaan rumahku datang menyapa menagih janji untuk ku selesaikan “Sudah waktunya”.

Begitu selesai satu yang lain segera menyusul seolah olah aku memang tidak boleh santai.

Beberapa hal mungkin bisa ku selesaikan di ujung waktu tetapi untuk beberapa hal lainnya aku bener-benar tidak bisa menyelesaikannya di ujung waktu.

Aku harus menyelesaikannya dengan segera dan sialnya aku sering kehabisan waktu.

Kenapa?!

Ah! Sepertinya manajemen waktuku masih kurang baik.

Harus ku perbaiki!

Dan kali ini aku harus menuntaskan semuanya dan memperbaiki semuanya.

Aku tau, gak ada yang salah dengan semua yang terjadi, justru diriku lah yang salah. Salah memanajemen waktu dan salah mengatur prioritas.

Tidak semuanya salah sih! Tetapi tetap saja ada yang salah. Sekarang aku hanya perlu memperbaiki yang salah agar tidak melahirkan kesalahan-kesalahan yang baru.

Aku tidak tau apa yang akan terjadi esok.

Aku tidak tau apakah aku akan sampai pada titik dimana aku berhasil menuntaskan semua pekerjaanku atau tidak.

Yang pasti aku tidak ingin terus seperti ini.

Harus berubah dan satu-satunya cara adalah memperbaiki diri. Dan satu-satunya jalan adalah “Memperbaiki shalatku”
-------------------------------oOo------------------------------

Aku yang Sekarang

Aku yang Sekarang




Akhirnya aku sampai di bulan November 2018

Ah rasanya waktu begitu cepat berlalu, padahal aku belum sempat beranjak dari tempat dudukku. Aku masih menggoyang-goyangkan penaku pertanda aku masih gelisah perkara esok. Belum ada yang ku tulis, kertasku masih saja kosong sementara itu pikiranku masih tertuju pada Esok.

“Esok”

Iya “Esok”. Apakah aku bsa melawati esok dengan baik sedangkan aku masih lalai dan terbuai dengan kesenagan kesenangan yang sementara ini.

Aku kalah dengan diriku sendiri bahkan untuk meninggalkan permainan kecil ini pun rasanya berat.

Aku yang sekarang tidak sama seperti yang dulu. Semuanya sudah berubah dan pelan-pelan menjadi sesuatu yang berbeda. Menjadi hal yang baru yang tidak akan pernah sama lagi dengan yang dulu.

Lalu muncul pertanyaan di benakku. Dengan semua yang ku lakukan dan dengan semua kebiasaan-kebiasaanku Mau jadi apa aku nanti?

Aku pasti berubah dan akan menjadi sesuatu yang berbeda lalu apakan sesuatu yang berbeda nanti adalah sesuatu yang baik?

Belum tentu

Bisa jadi sesuatu yang lebih buruk

Tergantung dari apa yang ku lakukan sekarng.

Iya aku tau dan kita semua sama-sama tau. Lalu pertanyaanya sudah seberapa jauhkan aku melakukan yang terbaik sesuai dengan apa yang ku ketahui selama ini?

Bahasa lainnya sudah berapa banyak aku mengamalakan ilmu ku?

Ah! Aku hanya bisa menunduk “tidak banyak, bahkan sangat sedikit”

Sudahlah! Sudah!

Semua sudah berlalu dan aku tidak bisa mengubah masa lalu.

Aku yang sekarang adalah hasil dari apa yang ku lakukan kemarin. Dengan kualitas yang seadanya inilah hasil apa yang ku lakukan dari kemarin.

Bisa di bilang ini adalah hasil dari amalku kemarin. Mengecewakan memang. Tapi mau bagaimana lagi, lagi pula aku melakukannya dengan sadar jadi apa pun hasilnya aku harus bisa nerimo.

“Jelek” enggak juga

Tapi masih kurang bagus aja.

Aku berharap agar esok bisa menjadi lebih baik lagi. Lebih indah lagi dan pokoknya lebih baik lagi lah!

Maksa memang

Tapi biar bagaiamana pun memang harus menjadi lebih baik lagi.

Amal harus di tingkatkan

Agar kelak jika aku menjadi sesuatu yang berbeda aku menjadi sesuatu yang lebih baik lagi.

Aku yang sekarang memang tidak seperti yang ku harapkan. Tapi aku bersyukur karena Allah masih memberiku kesempatan.

Dan kali ini aku harus memanfaatkan kesempatan ini dengan semaksimal mungkin. Terutama memperbanyak belajar.

Iya “Belajar”

Karena esok penuh dengan ketidak pastian. Maka belajarlah, belajarlah agar tidak menjadi orang yang merugi.

Iya Aku harus banyak belajar

Belajar dalam arti yang luas dan belajar dalam arti yang sesungguhnya.

Karena aku yang sekarang harus banyak belajar agar bisa meningkatkan amal shalih.


-------------------------------oOo-----------------------------