Hari ini

Hari ini




Aku selalu ingin melakukan yang terbik, tapi nyatanya aku tidak selalu melakukan yang terbaik dalam hidupku. Ada banyak hal kecil yang ku abaikan dan hal-hal besar yang tidak ku selesaikan.

Semua berjalan begitu saja dan berlalu begitu cepat.
Aku di Titik ini

Aku di Titik ini




Hari ini usiaku sudah genap seperempat tahun.


Tapi sayangnya sampai saat ini tidak banyak yang sudah ku lakukan. Aku belum sampai di titik puncak dan masih banyak hal-hal kecil yang harus ku perbaiki dan banyak yang harus ku tingkatkan.

Secara pribadi aku mengatakan bahwa aku butuh perbaikan, layaknya sebuah mesin aku harus melakukan servis terhadap dan layaknya sebuah sistem aku harus melakukan update bahkan aku juga harus melakukan upgrade.

Banyak yang harus ku perbaiki dan banyak yang harus ku tingkatkan.

Aku masih banyak malesnya dan masih sering menunda waktu. Kelihatannya sederhana tapi hal-hal kecil ini lah yang tanpa ku sadari telah menghambatku untuk maju.

Di titik ini aku akan memperbaikinya, aku akan memperbaiki diriku dan meninggalkan semua kebiasaan burukku.

Aku tau aku tidak akan langsung bisa, ada tahapan yang harus ku lalui dan ada kalanya aku jatuh dan terluka karena itu aku harus kuat.

Aku harus menjadi lebih kuat agar aku bisa menahan rasa sakitnya terjatuh. Karena aku tau jatuh itu rasanya sakit, kalau aku tidak kuat aku tidak akan bisa berdiri lagi.

Di titik ini dan di usiaku yang sudah seperempat abad ini, aku harus bener-bener melakukan yang terbaik untukku, untuk hidupku dan untuk orang-orang yang ku cintai.

Kalo ada yang bilang aku pasti gagal.

Iya, aku mungkin akan gagal.

Akan tetapi berapa kali pun aku gagal aku akan menyerah dan berputus asa.

Aku pasti akan terluka

Iya aku pasti akan terluka

Akan tetapi sesakit apa pun luka itu aku akan berdiri dan terus melangkah.

Sudah terlalu banyak waktuku yang terbuang percuma dan aku harus memperbaiki semuanya.

 ***
Ya Allah berikanlah aku kekuatan untuk beramal sholeh dan kekuatan untuk meninggalkan kemaksiatan serta berikanlah aku kekuatan untuk memperjuangkan mimpi-mimpi ku. dan masukkanlah aku kedalam golongan orang-orang yang bertakwa.

-------------------------------oOo-----------------------------

Di Titik ini

Di Titik ini






Di titik ini aku bener-bener lelah.

Iya aku bener-bener lelah.

Setelah semua yang terjadi sepertunya aku bener-bener kalah dengan diriku sendiri. Buktinya aku masih saja malas dan banyak menunda seolah-olah aku hidup selamanya padahal aku sendiri tidak pernah tau sampai sejauh mana umurku nanti

Astagfirullah...

Aku harus berhenti

Aku harus bener-bener berhanti dan istirahat sejenak.

Tubuhku ini rasanya benar-bener lelah, padahal aku tidak banyak bergerak. Tapi kenapa? Kenapa aku merasa lelah?

Ah! Aku ingin tau mengapa aku merasa lelah padahal aku tak banyak bergerak

Iya! Jawabannya sederhana, hatiku tidak tenang dan pikiranku juga tidak tenang. Aku merasa kacau dan bener-bener merasa sangat kacau.

Sekali lagi, aku bener-bener merasa lelah letih dan resah

Jika memang pikiranku yang kacau solusinya hanya satu.

Aku harus kembali kejalan yang benar.

Iya! Aku harus kembali kejalan yang benar.

Mungkin selama ini aku lebih sering berada di jalan yang salah, meskipun gak selalu.

Kadang-kadang aku jalan di jalan yang bener- kadang-kadang aku berjalan di jalan yang salah.

Tapi biar bagaimanapun jalan yang salah tetap saja salah. Meskipun cuma selangkah aku tetap saja salah, gak da toleransi atas kesalah yang ku lakukan.

Astagfirullah...
Solusinya hanya satu.

Kembali kejalan yang benar.

Harus ku akui, aku bener-bener kalah pada diriku sendiri. Aku kalah pada hatiku, kalah pada keinginananku dan kalah pada ambisiku. Padahal aku yang harus mengendalikan semua itu. Bukan malah mengikutinya sampai akhirnya melahirkan kebiasaan-kebiasaan buruk.

Akhirnya kan begini.

Aku jalan di jalan yang salah dan hati ku pun tidak tenang hingga akhirnya aku merasa lelah.

Ah! Aku bener-bener kalah pada diriku sendiri.

Tenang! Sampai di titik ini aku tidak boleh menyerah pada diriku sendiri dan membiarkan diriku di kuasai oleh kebiasaan-kebiasaan buruk ini.

Aku harus semangat! Harus kuat! Dan harus bisa mengendalikan diriku sendiri. Mengendalikan akal sehatku, hatiku, keinginanku dan ambisiku.

Perjalanku masih panjang

Meskipun aku juga tidak tau sepanjang mana perjalanku

Tapi yang pasti masih ada perjalanan yang harus ku tempuh masih ada cerita yang harus ku selesaikan. Dan aku tak akan membiarkan diriku di kuasai oleh kebiasan-kebiasaan buruk itu lagi. Agar kelak aku beruntung dan tidak menyesali perbuatanku.

Karena itu aku harus kuat.

Iya aku harus kuat.

Aku tak boleh banyak mengeluh dan gak boleh banyak menunda lagi

Masih ada titik berikutnya

Masih ada tempat berhenti berikutnya

Maka dari itu aku harus punya bekal untuk menuju ttik berikutnya.

Jangan sampai aku tak membawa bekal apa pun di titik berikutnya.

Bissmillah...

 ***




Perjalanan ini

Perjalanan ini



Aku juga punya impian sama seperti kalian.

Kita sama-sama tau, untuk meraih apa yang kita impikan itu memang gak mudah. Banyak rintangan dan cobaan yang harus di hadapi bahkan tak jarang bagi untuk kita menghadapi kenyataan pahit yang muncul di luar dugaan.

Rasanya berat

Tapi seberapa beratkah perjalanan yang harus kita tempuh itu? Itu semua tergantung kita.

Kalo kebanyakan mengeluh semuanya akan terasa berat, bahkan hal kecil yang biasa aja akan menjadi masalah besar kalo terus-terusan mengeluh.

Rasanya mimpi-mimpi kecil yang pernah ku ukir hanya akan terus menjadi mimpi tanpa pernah menjadi kenyataan jika aku tak pernah berusaha.

Dan pada akhirnya semua tinggal cerita “Dulu aku pengen ini?”

Tidak tidak. Aku tidak mau semua itu tinggal cerita.

Aku harus berusaha sebaik mungkun untuk meraih mimpi-mimpi kecilku. Meskipun pada ahirnya aku tidak mendapatkan apa yang ku inginkan. Tapi, paling tidak aku udah mencoba dan udah berusaha.

Aku yakin hasilnya gak sama.

Mungkin aku gak dapat apa yang ku impikan. Tapi aku yakin, aku pasti akan mendapatkan kebaikan dari semua usaha yang sudah ku lakukan. Bisa jadi aku mendapatkan hal lain yang lebih bermanfaat dari yang ku impikan.

Dari semua perjalanan yang ku tempuh pasti ada kebaikan yang ku dapatkan. Jika kebaikan itu tidak berujud impianku aku tidak akan menyesal. Karena semua kebaikan tidak harus berbentuk apa yang ku inginkan.


-------------------------------oOo-----------------------------






Aku sebel

Aku sebel



Sudah tiga bulan lebih aku berteman dengan Nindi, dan satu hal yang pasti adalah ; temen harus bisa menjadi pendengar yang baik. Aku selalu menjadi pendengar yang baik untuk nindi meskipun kadang-kadang aku gak mendengarkan. Dan diantara semua cerita nindi yang paling sulit ku mengerti adalah tentang cowok yang naksir dia.

Waktu itu jam 2 siang, rencananya aku dan nindi akan nongkrong di warung kopi sebelah kampus. Udah setengah jam kami disini tiba-tiba seorang pelayan warung kopi menghampiriku “Maaf mas, di panggil abang itu, yang pake baju hitam di meja nomor 9” ujarnya sambil menunjuk kearah orang gendut berbaju hitam.

“Abang itu ya?” tanyaku

Dia mengangguk “iya mas” lalu pergi meninggalkan kami berdua.

“Eh, siapa?” nindi penasaran

Aku menggeleng “Gak tau?”

“Jumpain aja kali. Siapa tau dia kenal samamu?”

Perasaanku gak enak. Bisa kebayang gak? Aku di panggil orang tak di kenal di tempat umum. Kalo ternyata dia bukan orang baik gimana? Ah sudahlah, berpikir positif aja.

Aku pun nyamperin laki-laki itu “Bang, manggil saya?”

“Oh! Iya mas, silahkan duduk?” ujarnya ramah.

Aku menelen ludah “ada apa ya bng?” tanyaku

Laki-laki itu tersenyum “Mas temennya nindi kan?”

“Iya” jawabku

“jadi gini mas. Temenku ada yang suka sama Nindi, nah karena kebetulan ninidi ada dasini dan dia pun lagi disini. Jadi rencananya dia mau nembak Nindi disini. Kayak acara-acara di tv gitu mas”

“Oooooh, gitu” aku ngerti maksudnya “Yakin mas mau disini”

“iya mas disini. Sekarang”

“Hah! Sekarang?” aku kaget

“Iya mas. Sekarang. Mangkanya aku minta tolong mas duduk disini aja. Pokonya nanti kami yang bayarin semuanya”

“Memangnya gapapa bg”

“Santai ajah mas, warkop ini temen kita punya. Pokoknya aman deh, yang penting mas disini ajah dulu sampe semuanya kelar”

“Yaudah lah bg”

“Makasih ya mas” laki-laki itu pun memberi isyarat kepada temennya.

Aku menelen ludah. Perasaanku gak enak, bukan karena cemburu tapi karena aku gak yakin Nindi bakalan menerima cowok yang bakalan nembak dia. Meskipun aku gak tau siapa cowok itu, tapi aku yakin cowok itu pasti adalah orang yang pernah di ceritakan Nindi tempo hari.

Aku yakin bener karena dari semua yang pernah di ceritakan nindi cuma ada satu cowok yang naksir berat dengannya. Dan aku yakin cowok itu pasti ada disini, di warkop ini.

Selanjutnya muncul dua orang laki-laki dengan memainkan sebuah istrumen gitar, masing-masing dari mereka berdiri tepat di sebelah kiri dan kanan nindi.

Lalu seorang laki-laki lagi datang dengan melantunkan semuah sajak, sembil membawa setangkai mawar merah. Mungkin dialah orangnya, orang yang dimaksud laki-laki gendut tadi.

Dengan langkah perlahan dia mendekati nindi. “Hari ini bukan milikku, begitu juga dengan esok dan kemarin. Karena sejatinya aku tak pernah memilik hari apa pun. Tapi aku punya hal indah yang membuatku merasa semua hari adalah hariku. Yaitu hari dimana Aku betemu denganmu.”

Mendadak suasana yang tadinya riuh  menjadi hening, mereka saling berhadapan, para pengunjung memperhatikan mereka.  Nindi hanya diam sementara itu laki-laki itu melanjutkan sajaknya.

“Ketahuilah nin, jika hari ini menjadi milikku, maka aku hanya ingin bersamamu. Dan jika hari ini dibrikan kepadaku maka aku hanya ingin bertemu denganmu...”

Cowok itu semakin mendekati nindi. Nindi mengernyitkan dahinya. Dia beranjak dari duduknya, berdiri seolah tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Tanpa bicara sepatah kata pun nindi pergi meninggalkan laki-laki itu.

Orang-orang yang menyaksikan hanya bisa diam, mereka seolah tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Seolah tak mau melihat laki-laki itu kecewa mereka kembali ke aktifitas semula. Menikmati hidangan diatas meja yang tadinya sempat tertunda.

Laki-laki itu mengejar nindi, tapi nindi terlalu cepat untuk di kejar. Meskipun pada akhirnya laki-laki itu berhasil meraih tangan Nindi. Namun, Nindi tetap berjalan tanpa menolah ke arah laki-laki itu.

Akhirnya laki-laki itu pasrah dan membiarkan nindi pergi begitu saja.

Aku menggelengkan kepala, aku udah menduga hal ini pasti terjadi. “Aku udah bisa pulang kan bang?” tanyaku pada laki-laki gendut di sebelahku.

“Oh. Iya, mas silahkan”

Aku menagngguk.

“Biar kami aja yang bayar mas”

“Eh! Makasih bang”

“Iya mas. Sama-sama”

***

Malam itu aku datang ke kosannya nindi. Berharap dia gak marah padaku. Kali aja dia mengira aku sekongkol dengan laki-laki tadi. “Kau gak marakah kan sama ku”

Nindi tersenyum kecil “Ah! Ngapain juga aku marah sama mu. Lagian aku tau kok kau gak tau apa-apa”

“Jadi, apa orang itu yang selama ini kau maksud”

“Iya” nindi mengangguk “tadi dia dateng lagi. Terus ngomongin semuanya”

“Terus gimana?” aku penasaran

“aku tetap gak bisa menerima dia. Meskipun dia anak yang baik dan romantis” ujarnya dengan suara yang pelan “Tapi aku tetap menolaknya”

“Kenapa?”

“Kan ada kau. Kalo aku jadian sama dia. Terus siapa yang mau jalan sama mu nanti”

“Ah! Gombal melulu”

“apa an sih?” nindi tersenyum lebar

Mendadak perasanku jadi gak enak

“Kok aku jadi sebel ya?” ujar nindi

Aku menatap Nindi “iya. Aku juga sebel”

-------------------------------oOo-----------------------------









Apa cuma ini

Apa cuma ini




“Selama tahun 2017 ini apa sih yang udah ku lakukan?”
Gak banyak sih
“Apa cuma ini yang bisa ku lakukan?”
“Kalo kayak gini terus bagaimana mungkin aku bisa naik kelas?”
“Ah aku harus berusaha lagi”

Rasanya sedih banget ketika aku menyadari diriku udah tertinggal jauh dari temen-temen seangkatanku. Rasanya kok ngilu-ngilu gitu, padahal di awal-awal aku udah semangat tapi di akhirnya aku harus menerima kenyataan yang gak enak ini.

Iya aku ngerti, ini semua salahku yang lalai terus.

Dan salah satu penyebab ke lalaianku adalah internet.

Iya internet

Jadi ya gitu. Karena aku termasuk pribadi yang ga bisa diem kalo udah terhubung dengan internet mangkanya aku menyiasati dengan trik sederhana “Matikan internet dan mulai belajar”

“Tapi ada jadwalnya ya? Gak setiap hari dan setiap waktu”

Aku harus mematikan koneksi internet menjelang magrib sampai jam sembilan malam. “ya kira-kira begitulah” namun ceritanya bakal berbeda kalo aku harus bekerja dengan koneksi internet dan akan berbeda pula kalo di hari libur dan akan sangat berbeda kalo aku pulkam.

“Karena di kampung susah sinyal”

Tapi biar bagaimana pun aku tetap harus hati-hati dengan internet, karena kalo udah baca pemberitahuan di sosmed aku bakalan lupa semuanya. Apa lagi kalo udah mantengin channel favoritku di youtube. Wah! bisa tahan semalaman tuh?

Dan pada akhirnya aku kembali ke pertanyaan pertama “Apa cuma ini?”

“Iya, apa cuma ini yang bisa kulakukan dengan internet?”

“Semoga kedepan aku bisa lebih bijak lagi menggunakan internet. Dan semoga aja aku bisa menghasilkan fulus lewat internet. Semoga saja”


-------------------------------oOo-----------------------------
Dia

Dia


Siang itu ada yang berbeda dengan Nindi, selain wajahnya yang cemberut dia juga asik menatap layar ponselnya. Nindi hanya diam, aku yang udah lima belas menitan duduk di depannya jadi merasa bosan. “Kau kenapa sih? Aneh banget hari ini?”

“Gapapa kok” jawab nindi kalem

“Gapapa, tapi kayak gitu, kayak lagi patah hati aja?”

Bari sebentar aku duduk di sebelahnya tiba-tiba datang seorang cowok nyamperin Nindi. “Nindi, bisa ngomong sebentar”

Tanpa menoleh ke arah cowok itu Nindi langsung beranjak dari tempat duduknya sambil menarik tanganku “Kita pergi aja”

“Eh! Apa an nih?” aku bingung

Cowok itu diam membatu, dia membiarkan kami pergi sambil menatap kami dengan tatapan kosong. Saat itu aku hanya bisa mendiuga-duga, mungkin cowok itu lagi patah hati dengan Nindi. Atau jangan-jangan cowok itu adalah mantan pacaranya yang minta balikan?. Entahlah! Aku juga gak ngerti apa yang sedang terjadi.

Kami berhenti di tukang cendol depan gerbang kampus. Nindi mengambil posisi duduk yang teduh lalu memesan dua porsi cendol, padahal aku lagi gak pengen minum cendol. Selain aku gak haus itu juga karena aku masih penasaran dengan apa yang terjadi barusan.

“Eh, kenapa sih?” tanyaku penasaran

Nindi menekuk wajahnya “Gapapa”

“Yaelah, dari tadi ditanyakin jawabnya gapapa, gimana aku bisa tau kalo kau gak ngomong apa apa. Emangnya aku bisa baca hatimu” aku mulai kesal

Pengen rasanya aku meninggal nindi di tukan cendol itu, tapi aku gak tega meninggalkan dia yang lagi galau. “Kalo ada masalah itu ngemeng, jangan mingkem aja. You now?”

Nindi mengangguk “Aku galau di, aku lagi ada maslah?”

“Mangkanya ngemeng dong? Eh! Maksudku ngomong dong?”

Nindi mengambil napas dalam-dalam “iya iya, tapi dengerin ya?”

Aku mengangguk “he em”

Dia pun mulai bercerita “aku itu orang yang gampang percaya sama orang, apa lagi sama orang yang deket sama ku. Meskipun kadang-kadang orang itu sering bohong tapi aku aku masih tetap percaya bahwa setiap orang punya kejujurannya masing-masing”

“berarti kalo aku bohong, kamu percaya dong”

“Iya! Aku percaya. Bohongin aja aku terus” ujar nindi ketus

Aku diem, Nindi melanjutkan ceritanya “Tapi semua berubah sejak dia datang. Dia temen sma ku. Kami memang satu SMA tapi kami mulai dekat ketika semester tiga kemarin, waktu itu dia pindah ke kosan sebalah kos ku. Aku seneng karena pada akhirnya ada juga cowok yang bisa diandalkan di komples kosan kami”
“Mula-mula kami biasa aja, kami mulai dekat karena dia deket dengan temen kosku, Nina. Nina sering kepo nanyain tentang dia, mentang-mentang kami satu SMA bukan berarti aku tau banyak tentang dia. Bahkan tau namanya aja baru waktu itu. Selama SMA aku sama sekali gak pernah ketemu dia, karena dia juga bukan anak yang populer di sekolah”

“Karena sering ketemu, akhirnya kami jadi sering cerita, kami jadi sering ngobrol dan sering berbagi, rasanya gak ada yang sulit saat kami bersama. Aku seneng aja karena akhirnya ada juga anak cowok yang normal di kompleks kami”

“Lho emangnya di kompleks kosan kalian gak ada cowok normal ya?” ujarku menyela

“Bukan gitu. Maksudnya, hampir semua cowok di kompleks kosan kami anaknya aneh-aneh, ada yang suka genit, ada yang malu-malu, ada juga yang gampang ke ge’eran, malah ada yang cueknya gak ketulungan”

Nindi menarik nafas dalam-dalam lagi, lalu melanjutkan ceritanya “Aku masih ingat waktu itu jam dua belas malam, saat itu adalah hari ulang tahunku, dia memberi kejutan yang luar biasa, kejutan yang gak pernah bisa ku lupakan waktu itu. Yang membuatku kagum karena dia berani minta ijin langsung kepada ibu kos kami untuk membuat kejutan itu, rasanya hampir sulit di percaya ibu kos kami yang galak pun bisa di luluhkan olehnya”

Tatapan nindi mulai berbeda seolah-olah dia sedang menggali memori masa lalunya “Dua hari setrelah itu dia menyatakan perasaanya dan kami pun langsung jadian. Rasanya seneng punya cowok sekeren dia. Dia perhatian, baik dengan semuanya dan suka mmeberi kejutan”

“tapi perlahan semua berubah, setahun setelah kami jadian dia terlihat berbeda, dia mulai banyak bohongnya dan bodohnya lagi aku selalu percaya dengan semua kebohongannya. Meskipun orang bilang aku bodoh karena percaya dengan semua omongannya, aku gak peduli, sekali sayang tetap sayang.

Bahkan saat orang-orang bilang dia udah gak sayang lagi karena udah punya pacar baru, aku juga gak peduli. Aku masih tetep percaya padanya, sampai-sampai saat dia di gosipin jalan dengan Nina, aku juga gak percaya. aku lebih percaya padanya”

Mata Nindi mulai berkaca-kaca, dia menggigit bibir bawahnya. Setelah beberapa detik dia melanjutkan “Sampai akhirnya saat itu pun tiba, waktu dia gak bisa di hubungi sama sekali, aku galau, perasaanku gak enak. Tapi temen kos ku tetap menghiburku mereka mengajakku jalan-jalan ke taman kampus berharap suapaya aku bisa senyum kembali. Tapi sesampainya disana hatiku hancur, aku melihatnya berdua dengan Nina.

ah! Aku hampir gak percaya, dia yang ku percaya ternyata diam-diam gandengan dengan temenku sendiri. Aku menghampiri mereka, lalu dia menjelaskan semuanya. Katanya mereka cuma temenan dan lagi curhat, sementara itu Nina hanya tertunduk diam. Dan saat itulah untuk pertama kalinya aku gak percaya padanya. Aku menamparnya lalu pergi meninggalkannya.

Malam harinya dia minta maaf padaku tapi aku masih sulit untuk memaafkannya. Meskipun sulit pada akhirnya aku memaafkannya dan saat itu juga lah aku mengakhiri hubungan kami.

Dua hari setelah kejadian itu, dia pindah kos, diikuti dengan Nina yang pindah kos setelah itu.

Akhirnya semua jelas dan aku pun menghapus semua yang berhubungan dengannya” Nindi menghela nafasnya diiringi dengan menyeka air matanya.

Aku bertanya “Terus kenapa dia dateng lagi?”

“Entahlah di, dia minta maaf lagi dan minta balikan”

“Terus!”

“aku gak mau balikan”

“kan masih bisa di omongin?” jawab ku ketus

“kau mau belain dia?” nindi melotot

“Bukan itu, maksudku kan bisa di omongin kalo kau udah gak mau lagi sama dia. Lagian bilang aja ‘aku mau sendiri’ gitu. Atau apalah gitu, supaya dia gak ngejar-ngejar kau lagi. Kan gak lucu kalo nanti kalian kejar-kejaran di dalam kereta api”

“Eh! Aku udah ngomong tapi dia aj yang gak mau demger”

“Yang iya nya kalian aja yang gak pernah ngomongin ini dengan baik-baik. Coba kalo di omongin baik baik pasti gak kayak gini”

“Isss, kok jadi aku yang di salahkan?”

“Denger ya! Sebaiknya kau ngomong pelan-pelan dengannya, kalian omongin baik-baik dan kalian selesaikan masalah ini. Kalo dia punya otak pasti dia ngerti kok. Kalo dia masih gak ngerti juga dan masih ngejar-ngejar dirimu kita bisa lapor ke polisi”

“tapi, gimana aku bisa ngomong sama dia coba, kalo ketemu dia aja sebel melulu”

“kau kan gak sendiri, kau punya temen. Temen kos mu, temen kuliahmu atau temen cewekmu yang lain kan ada. Minta mereka menemani. Kayaknya gak sulit-sulit amat deh”

“iya deh iya. Makasih ya? Kalo gitu nanti malam bakalan ku omongin dengan temen kos ku”

Aku menghela nafasku, es batu di cendolku udah mulai cair aku buru-buru menghabiskannya. Nindi beranjak dari temapt duduknya lalu membayar cendolnya “aku duluan ya?” ujarnya. 

Aku mengangguk “iya” jawabku

Nindi bergegas meninggalkanku tapi rasanya ada yang kurang saat ia pergi. Beberapa detik kemudian aku baru sadar aku masih tidak tau sia nama cowok yang di sebut “dia”. Dia orang mana? Tinggal dimana? Kuliah dimana? Aku juga gak tau? Bagaiman akalo nanti kita ketemu di jalan? Aku harus apa?

Ah! Sudahlah. Bdoh amat, lagian dia itu siapa?

-------------------------------oOo-----------------------------