Mumpung masih muda

Mumpung masih muda



“Masih muda kok males-malesan. Sayang loh waktunya terbuang”

Banyak orang tua yang menyayangkan kebiasaan anak muda yang sukanya molor melulu. Molor diatas tempat tidur dan molor di depan gadget. Kebiasaan molor ini membuat anak muda jadi males, gak produktif dan gak berkarakter.
Gak akan menjadi lebih baik

Gak akan menjadi lebih baik



“Waduh! Masalah lagi. Kok gini terus sih?”

Aku mengeluh lagi, dari tadi kok bawannya ngeluh terus ya? apa ada yang salah denganku?

Aku ngerti kok mengeluh itu gak bagus untuk kesehatanku, tapi melihat kondisi yang gak sesuai ekspektasi ini terkadang membuatku menjadi gak nyaman dan akhirnya aku mengeluh lagi.
Dirumah kecil ini

Dirumah kecil ini




Sejak Agustus 2016 aku tinggal di sebuah rumah kontrakan yang tidak jauh dari tempatku mengajar. Dan sejak saat itu pula hidupku banyak brubah. Disini, di rumah kecil ini, mau gak mau aku harus survive untuk bener-bener hidup supaya hidupku bener-bener hidup. Seperti kata orang jawa “urip iku urup”, “Hidup itu menyala”

Tentang mimpi itu dan selembar kertas yang penuh coretan

Tentang mimpi itu dan selembar kertas yang penuh coretan



Aku pernah merangkai mimpi-mimpiku di selembar kertas, entah karena karena apa dan entah terinspirasi siapa aku pun gak ingat. Waktu itu, aku menuliskannya pada selembar kertas, kemudian ku salin dengan rapi di buku tulis.

Gak ada pikiran macem-macem waktu itu, misalnya susahnya tantangan yang akan ku hadapi atau masalah yang akan muncul saat aku memperjuangkan mimpi-mimpi itu. Pokoknya apa pun yang menjadi impianku ku waktu itu ku tulis dengan rapi di buku itu.

Waktu itu Mei 2017 (Karena tanggalnya masih tertulis di buku itu) aku menulis semuanya pada buku itu. Tapi sayangnya saat aku kuliah aku melupakan buku itu dan tulisan yang ada pada buku itu, termasuk mimpi-mimpiku yang ku rangkai waktu itu. Hingga akhirnya beberapa tahun setelah itu (tepatnya setelah aku wisuda tahun 2015) aku membuka buku itu, dan hasilnya aku merinding sendiri.

Dan sejak saat itu sampai tulisan ini ku buat aku gak berani membuka buku itu, kecuali beberapa lembar halaman tertentu yang isinya tetang motivasi yang kuambil dari Ayat Al-Quran.


Sebenernya harapan itu masih ada, dan aku masih ingin mewujudkan mimpi-mimpiku, meskipun gak semuanya. Paling tidak satu atau dua bisa ku wujudkan. Namun kadang-kadang aku lebih memilih diam dari pada bergerak untuk memperjuangkannya. Kenapa? Kadang-kadang aku merasa ragu dengan keputusan yang kuambil. “benarkah ini?” dan perasaan ragu inilah yang membuatku kacau.

Diam terlalu lama itu gak bagus, aku ngerti kok. Cuma kadang-kadang aku gak ngerti juga, aku harus ngapain lagi dan harus bagaimana? Entahlah?! Semakin lama ku kerjain kok kayaknya semakin buntu aja. Gak ada tanda-tanda berhasil atau gimanaa gitu.

Yaa pada akhirnya aku diem lagi. Sempet juga pengen ngulangi semua yang bisa diulang, namun mengingat waktu yang terus berjalan, akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjuanganku meskipun penuh dengan tanda tanya.

Kalo di hitung-hitung selama ini aku udah melakukan banyak kesalahan, baik yang tersirat mau pun yang tersurat dari yang kecil sampai yang paling besar. Dan pada titik ini aku menjadi bimbang, antara melanjutkan langkahku atau putar balik lalu memulai langkah yang baru.

Sampai akhirnya di titik ini aku mencoret kertas lagi, membuat langkah-langkah baru. Sama seperti yang ku lakukan di tahun 2010 lalu. Merangkai mimpi tau apalah itu namanya. Tapi kali ini semuanya ku sederhanakan “seperti menyederhanakan bentuk akar pada matematika”.

“Gak banyak yang ingin ku capai, kali ini aku hanya ingin memperbaiki diriku dan menemukan jalanku yang sebenarnya”

Dan satu lagi “meninggalkan rasa ragu”

Akhirnya kertas ini udah penuh dengan coretan. Sepertinya aku memang harus bergegas untuk memperbaiki semuanya. Sekarang juga!


-------------------------------oOo-----------------------------
Blog ini dan postingan yang ku hapus

Blog ini dan postingan yang ku hapus



Setelah sekian lama akhirnya aku kembali ngeblog. Jujur aja, awalnya ngeblog ini bukan passion ku, sebenernya aku lebih tertarik dengan desain grafis dari pada blogger. Aku lebih betah berlama-lama di depan Corel Draw atau Photoshop daripada di depan blogspot atau Ms Word dan kawan-kawannya.

Bagiku ngeblog itu susah-susah gampang. Yaa masih lebih enak desain lah meskipun agak-agak ribet gimanaa gitu.

Beberapa hari yang lalu aku menghapus semua postingan blogku. Sebenernya itu bukan kali pertama, sebelumnya di tahun 2016 aku juga pernah melakukan hal yang sama. Aku menghapus semua postinganku dan memposting postingan baru.

Sebenernya tujuanku menghapus semua postingan itu Cuma sederhana, aku hanya melakukan evaluasi dan ingin membuat postingan yang lebih berkarakter, sisanya terserah aku ajalah gak perlu deh ku tulis disini.

Okeh! Karena aku masih belajar jadi harap maklum jika kalian menemukan kesalahan dalam blog ini. Yaaa, entah itu kesalahan dalam penulisan atau kesalahn dalam peletakan gambar dan kesalahan-kesalahan lain yang muncul di blog ini.

“Dari blog ini aku belajar menulis dan berkarya. Meskipun enggak mudah tapi aku pecaya banyak pesan menarik yang bisa ku sampaikan lewat blog ini”

Jika blog ini kesannya baper dan kayak-kayak curhat gitu, mohon di maklumi, karena di blog ini aku menulis dari apa yang ku ketahui, Seperti kata JK Rowling “Mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri”

Setelah semua yang terjadi pada blog ini aku akan tetap menulis di blog ini...


Pak Yusri

Pak Yusri



“Alhamdulillah” aku bersyukur bisa jadi guru meskipun masih guru honor.

Berhubung karena aku seorang guru maka di sekolah secara resmi aku di panggil Pak Yusri. Semua siswaku memanggilku dengan panggilan Pak Yusri, meskipun punya inisial AY aku tetap bersyukur karena siswaku memanggilku Pak Yusri, bukan Pak AY, atau Pak ay atau bahkan PakAy.

“Kerja dimana Yus?”
“Di SMA?”
“Kerja apa?”
“Ngajar?”
“Kau jadi guru?”
“Iya?”
“Guru Apa?”
”Matematika“
“Wih! Manteblah”

Kurang lebih begitulah obrolan saat pertama kali aku bertemu dengan temen-temenku bebeapa waktu setelah wisuda. Hampir semuanya menganggap pekerjaanku adalah pekerjaan berat yang hanya bisa di lakukan orang-orang hebat.

“Jadi guru matematika, apanya yang gak manteb?! Secara aku gak suka matematika”
“Cukup tau aja, oang-orang kayak kau lah yang ku hadapi di sekolah. Orang-oang yang gak suka Matematika”

Bisa dibilang yang susah itu bukan Matematikanya tetapi menghadapi anak-anak yang gak suka matematika. Bagaiman mungkin aku bisa mengajarkan matematika sedangkan orang yang diajarkan aja udah pada gak suka matematika.

“Trus gimana cara mengatasinya?”

Aku harus selalu punya cara untuk mnghadapi anak-anak yang gak suka matematika dan gak mau belajar. Biasanya aku akan konsultasi dengan teman teman sasama guru termasuk para guru senior. Ada banyak solusi yang di tawarkan tinggal aku saja yang harus mengemasnya dalam bentuk yang sesui.

Sepuluh tahun yang lalu aku gak pernah membayangkn akan menjadi guru. Itu artinya aku gak pernah tau apa yang akan terjadi esok. Termasuk jadi apa siswa-siswiku sepuluh tahun yang akan datang. Bisa jadi mereka menjadi seniman, profesional kreatif, pengusaha, pejabat atau yang lainya

Aku juga gak pernah tau apa yang akan tejadi padaku esok. Apakah sepuluh tahun yang akan datang aku masih menjadi guru atau tidak? Entahlah!

“Kalo kau gak jadi guru, kau mau jadi apa yus?”
“Aku sih pengennya jadi penulis”
“Itu aja?”
“Enggak juga sih, kalo ada peluang aku juga pengan jadi pedangang, bisa juga jadi desainer atau bahkan web developper, profesi yang ku impikan setahun belakangan ini”
“Gitu ya?”
“Aku gak berharap banyak, apa pun pekerjaanku nantinya yang penting aku bisa memenuhi kebutuhan hidupku dan tidak membebani orang lain, itu udah cukup untukku”

Pada akhirnya aku juga sama seperti kalian. Aku masih menganggap diriku pelajar, aku masih harus banyak belajar karena masih banyak yang haru ku pelajari. Jika hari hari ini aku berhenti belajar maka hidupku akan berakhir aku akan tersesat di tengah hiruk pikuk kehidupan ini.

Akhirnya aku harus bener-bener berusaha sebaik mungkin untuk melaksanakan tugasku di sekolah. Bukan hanya mengajarkan ilmu pengetahuan tetapi juga membina dan mendidik generasi pernerus bangsa.

“Tidak sedikit tetapi aku harus memulainya dari dirikku sendiri bagaimana aku bisa mendidik orang lain jika aku sendiri tidak bisa mendidik diriku sendiri”



Aku udah hampir 1/4 abad

Aku udah hampir 1/4 abad



“Usiaku semakin bertambah semakin tua dan .... Argh udah hampir sprempat abad”

Bulan juni yang kemarin usiaku genap 24 tahun, ini artinya aku bukan anak-anak lagi mengingat di usia segini aku udah bisa punya anak “hehehehe” maksudnya udah bisa nikah dan punya anak... Tapi sayangnya hari ini aku lagi gak mau ngomongin anak atau pun pernikahan.
Back to school

Back to school



Setelah libur panjang akhinya masuk skolah lagi. Kembali bekerja dan kembali mengajar. Rasanya senang bisa kembali masuk sekolah “Alhamdulillah”. Itu artinya aku bertemu kembali dengan teman-temanku dan siswa-siswaku dan yang paling ku tunggu betemu dengan siswa baru.
Hay Hay.... i’m Back

Hay Hay.... i’m Back



Beberapa waktu yang lalu aku menghapus postingan blogku kemudian menerbitkan tulisan baru...

Ralat

Sekarang aku menghapus lagi semua postingan blog ku dan menerbitkan tulisan baru.

Sebenernya sih sayang menghapus semua postingan yang udah susah payah ku buat. Meskipun katanya hanya tulisan “ecek-ecek” tapi bagiku sangat berarti. Dari postingan-postingan “ecek-ecek” itulah aku belajar menulis.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H



Hidup ini adalah perjalanan
Sejauh apa pun perjalanan itu selalu di mulai dari satu langkah kecil.
Langkah sederhana untuk mengawali hal besar dan memulai amalan Shalih
Dan di hari yang Fitri ini kita baru saja melewati sebuah perjalan besar.
Perjalanan Besar yang kita sebut dengan Ramadhan, Bulan suci yang penuh berkah.
Berakhirnya Ramadhan di tahun ini bukan berarti berakhir pula persaudaraan kita
Bukan berarti berakhir pula amal shalih dan amal ibadah kita.
Juga bukan berarti berakhir pula semangat menuntut ilmu serta semangat dakwah kita
Karena itu di Hari yang Fitri ini marilah kita tingkatkan semangat Ukhuwah kita.
Menjalin persaudaraan dan saling memaafakan.
Semoga kelak kita menjadi Orang yang mendapat Syafaat Rasulullah.
Sebagai Ummat yang menyatukan Ukhuwah islamiyah dan menebarkan cinta kepada Allah dan Rasulnya.

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Impianku Waktu itu

Impianku Waktu itu



Aku masih inget waktu itu aku pengen jadi dokter spesialis jantung. Dengan semangat apa adanya aku pun belajar dengan giat.
Siapa sih yang gak punya impian. Bahkan orang yang tak pernah sekolah sekalipun pasti punya impian. Begitu juga denganku waktu itu. Terinspirasi dari guru kimiaku waktu kelas VIII mendadak aku pengen menjadi dokter spesialis jantung. Bukan karena penghasilannya banyak, tetapi menurut yusri kecil waktu itu menjadi dokter spesialis itu keren. Bisa dibilang cool abis. Gara-gara itu aku bertekad untuk belajar dengan baik, dan terbukti sih dengan jadi juara kelas waktu itu.
Ketika malam tiba

Ketika malam tiba


Malam datang lagi, begitu cepat seperti biasanya. Aku masih belum menyelesaikan pekerjaanku.
Tugasku masih menumpuk, itu karena aku suka menunda. “Nantilah” “Ntar lagi” dan pada akhirnya tak satu pun yang ku kerjakan. Hingga pada akhirnya aku menyesal “mengapa tidak ku kerjakan tadi”. Hal seperti ini selalu saja berulang sapai akhirnya aku bener-bener menyadari “Aku harus berhenti menunda”